Wednesday, May 19, 2010

Semiotik, oleh Kurnia Setiawan S.Sn, M.Hum, C.Ht

Pada kelas kapita kali ini Pak Kurnia membahas mengenai semiotik. Di awal kuliah Pak Kurnia menjelaskan tentang adanya perbedaan makna dan persepsi dari tiap orang terhadap suatu peristiwa apabila suatu kejadian yang sama diungkapkan dengan cara yang berbeda. Pembahasan tersebut berkaitan dengan bidang ilmu yang akan di bahas pada kali ini yaitu ilmu Semiotik.

Semiotik merupakan suatu ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaaan berfungsi untuk menggali sebuah makna. Istilah Semiotik berasal dari kata Yunani seme; semeiotikos; penafsir tanda yang berarti ‘tanda’‘sign’ dalam bahasa Inggris, yaitu ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Perintis awal semiotika adalah Plato yang memeriksa asal muasal bahasa.

Dalam kajian ilmu semotik, tanda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tanda alami (natural) dan tanda yang disepakati (konvensional). Tanda alami (natural) merupakan tanda yang hamper dikenali oleh setiap manusia seperti contohnya mendung. Merupakan gejala alam atau tanda alam yang diketahui oleh setiap manusia. Berbeda dengan tanda yang disepakati (konvensional) contoh menggelengkan kepala bagi orang Indonesia menandakan tidak mau tetapi bagi orang dari bangsa India makna menggelengkan kepala punya arti yang berbeda yakni mengiyakan sesuatu.

Selain plato terdapat pula beberapa ilmuwan yang juga meneliti tentang kajian ilmu yang berhubungan dengan tanda, dan masing-masing memiliki persepsi tersendiri tentang kajian ilmu mengenai semiotik atau tanda.
1.St. Agustinus (354 – 430) mengembangkan teori tentang signa data (tanda konvensional). Persoalan tanda menjadi obyek pemikiran filosofis. Studi dibatasi mengenai hubungan kata fisik berhubungan dengan kata mental.
2.William of Ockham, OFM (1285 – 1349) mempertajam studi tanda. Tanda dikategorikan berdasarkan sifatnya. Apakah ia di alam mental dan bersifat pribadi, ataukah diucapkan/ ditulis untuk publik.
3.John Locke (1632 – 1740) melihat eksplorasi tentang tanda akan mengarah pada terbentuknya basis logika baru. Hal ini tertuang dalam karyanya “An Essay Concerning Human Understanding (1690)”.

Sebab pada mula Ilmu Semiotik berkembang hanya pada lingkup pemaknaan teks saja maka semiotik juga dikenal dengan istilah Semiology.

Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)
Semiology pertama kali di Konsep semiologi diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure (1857 – 1913), Berasal dari Swiss yang mengajar sansekaerta dan liguistik sejarah. Pendekatan Saussure tentang bahasa berbeda dari pendekatan filolog abad 19, dia mengkaji liuistik secara sinkronik,
bukan diakronik.Catatan diterbitkan dalam buku oleh muridnya ”Cours de Liguistique Generale”. Saussure mendefinsikan tanda liguistik sebagai entitas dua sisi (dyad). Sisi pertama disebut penanda (signifier); Sisi kedua adalah petanda (signified).
• Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified).
• Penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.
• Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa.
• Tanda liguistik (antara penanda dan petanda) bersifat arbitrer
o Konsep tantang anjing tidak harus dibangkitkan oleh penanda dalam bentuk bunyi a/n/j/i/n/g; karena bagi orang Inggris pengertian anjing diperoleh melalui kata “dog”.
• Terhubungnya sebuah penanda dan petanda hanya dapat dimungkinkan oleh bekerjanya sistem relasi atas kesepakatan (konvensi).
• Tanda dapat bekerja karena ada difference, artinya dia dapat dibedakan dengan tanda – tanda lainnya.
• Fenomena bahasa dibentuk oleh dua faktor; parole – ekspresi kebahasaan dan langue – sistem pembedaan di antara tanda – tanda. Struktur konsepsi dasar tentang langue berkaitan dengan kombinasi dan substitusi elemen – elemen bahasa (hubungan paradigmatik-sintagmatik.

Charles Sanders Peirce (1839 – 1914)
Seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Ia mengembangkan Teori tanda yang dibentuk oleh tiga sisi;
1.Representamen (tanda)
2.Objek (sesuatu yang dirujuk oleh tanda)
3.Interpretant (efek yang ditimbulkan;hasil), ada 3 yaitu, immediate interpretant (makna pertama), dynamic interpretant (makna dinamis), final interpretant (makna akhir)

Peirce memperkenalkan sifat dinamisme internal dalam tanda. Interpretant yang tersamar memungkinkan ia menjelma menjadi tanda baru (rantai semiosis).
Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu:
- Sintaksis mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan.
- Semantik mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.
- Pragmatik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda.

Roland Barthes (1915 - 1980)
Berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Tulisan – tulisan pada majalah Prancis “Les Letters Nouvelles”, membahas ‘mitologi’ bulan ini. Menunjukan bagaimana aspek denotatif tanda – tanda dalam budaya pop yang menyingkap konotatif (mitos – mitos) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat.

Semiologi Barthes, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader).
“Mitos – mitos yang menyelimuti hidup kita bekerja sedemikian halus, justru karena mereka terkesan benar – benar alami. Dibutuhkan sebuah analisis mendalam, seperti yang dilakukan oleh semiotika.”

Barthes mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya.Sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, berbeda dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama. Denotasi lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

Friday, May 14, 2010

New Media dan Social media, oleh Suharjono, 12/05/2010

Pada zaman dahulu sebelum internet berkembang, media cetak dan media televisi merupakan media yang cukup mempengaruhi pemikiran banyak orang. Namun seiring berkembangnya zaman, trend pun berubah, internet pada saat ini turut berkontribusi dalam mempengaruhi pemikiran orang.

Pada tahun 2008, pengguna media internet di Indonesia saja sudah mencapai 35 juta orang, pada tahun 2010 ini, pengguna internet diperkirakan sudah mencapai 50 juta orang. Bertambahnya pengguna internet dari tahun ke tahun disebabkan oleh beberapa faktor yakni ; Pertama, tarif internet yang relatif cukup murah. Apalagi saat ini, jika kita ingin mengakses web, bisa langsung dari telepon genggam. Sangat praktis dan tarifnya pun sangat murah. Kedua, jaringan internet yang sudah menglobal. Dengan tarif yang cukup murah, kita sudah bisa berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, contoh : chatting atau facebook ( sebuah situs pertemanan global ), jadi jika kita membuat account disana kita sudah dapat berinteraksi dengan orang-orang di luar negara kita. Ketiga, teknologi internet mampu menampilkan semua jenis berita. Kita dapat mencari gambar, foto, video, ataupun kita juga dapat mendengar radio di internet. Keempat, pada saat ini iklan media online pun sudah mulai bertumbuh. Biro iklan mulai membangun divisi khusus untuk iklan online. Iklan-iklan online di internet juga dibuat sangat interaktif dan menarik. Kelima, akses mobile. Ketergantungan masyarakat saat ini sangat tinggi terhadap handphone, Terlebih lagi handphone sekarang menyediakan fasilitas untuk mengakses situs seperti facebook, twitter, dan lainnya. Namun, kembali lagi kita harus bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut dengan benar, sehingga dapat memberi dampak positif kepada kita.

Pada zaman sekarang, konsep komunikasi satu arah tidak digunakan lagi, contohnya seperti konferensi pers (mengundang media), saat ini sudah memasuki era sosial media marketing, yaitu dimana kita melakukan pemasaran sebuah produk dengan sosial media yang lebih interaktif. Contohnya, kita meng-upload foto produk yang kita perdagangkan di facebook atau twitter. Pada saat kita memasukkan foto tersebut, orang lain dapat langsung menanyakan mengenai produk tersebut, dan kita juga dapat langsung membalas komentar orang itu. Sangat interaktif ,cepat dan mudah.

New Media
• Era baru Jurnalisme
• Menyajikan semua jenis informasi’
• Convergent jounalism jadi trend
• Proses produksi cross media
• Jurnalis multi skill ( reporter dapat melaporkan foto, video, tulisan sekaligus)

Media online tidak dikuasai oleh beberapa media besar seperti MNC, Kompas, dan Jawa Post, kita memiliki kebebasan untuk memilih media di internet, dan sekarang sudah banyak media online baru yang muncul seperti kaskus, indowebster, dan lainnya yang dapat kita manfaatkan untuk memperoleh berita atau informasi.

Saturday, May 8, 2010

Simbol dan Arsitektur, oleh Eduard Tjahjadi, 05/05/2010

Symbol
Secara etymology symbol berasal dari kata symbolum (Latin) dan symbolon σύμβολον (Greek ) yang artinya adalah objek, gambar, tulisan, suara, atau tanda tertentu yang mewakili sesuatu yang lain oleh asosiasi, kemiripan, atau konvensi.
Symbol merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan sesuatu yang telah berlangsung di semua kebudayaan sepanjang waktu, symbol juga mencerminkan intelektualitas, emosi dan spririt manusia. Symbol memungkinkan terjadinya sebagian besar hubungan komunikasi manusia dalam bentuk tertulis maupun verbal, gambar ataupun isyarat serta merupakan bahasa universal lintas budaya dan zaman. (David Fontana, The Secreat Language of Symbols, A Visual Key to Symbols and Their Meanings. Chronicle Books, San Francisco, 1994).

Arsitektur
Berasal dari kata Architectura –Latin dan Arkitekton, ὰρχιτεκτονική – arkhitektonike – Greek yang artinya yaitu kepala atau pemimpin dan pembangun atau tukang kayu (Τεκτονική) maksudnya adalah seni dan ilmu merancang bangunan dan struktur fisik lainnya.
Arsitektur, dalam definisi yang lebih luas meliputi semua kegiatan desain :
• dari level mikro (desain bangunan atau bangun-bangunan, kompleks bangunan, desain furnitur)
• ke tingkat makro (desain perkotaan: kawasan, bagian kota, arsitektur lansekap)
Saat ini, arsitektur dapat merujuk kepada aktivitas merancang sistem apapun dan sering digunakan dalam dunia TI.

Karya arsitektur sering dianggap sebagai :
• karya seni
• simbol politik dan budaya

Sejarah peradaban manusia sering diidentikkan dengan karya arsitektur yang masih ada sebagai bagian perjalanan peradaban manusia itu sendiri. Arsitektur lahir dari dinamika antara, kebutuhan dan cara, tempat tinggal dan bahan bangunan, keamanan dan teknologi, ibadah dll dan keterampilan yang tersedia. Vitruvius, arsitek Roma pada awal abad ke-1 Masehi berpendapat bangunan yang baik harus memnuhi 3 prinsip (De Architectura), yaitu firmitatis (daya tahan, berdiri kokoh dan tetap dalam kondisi baik), utilitatis (bermanfaat dan berfungsi dengan baik bagi orang-orang yang menggunakannya), dan venustatis (keindahan, menyenangkan orang dan meningkatkan semangat mereka).

Dalam banyak peradaban kuno, arsitektur dan urbanisme mencerminkan keterlibatan konstan dengan yang ilahi dan supernatural.
Budaya tradisional melibatkan faktor-faktor yang bersifat :
• fisik
• nonfisik --> khususnya bersifat simbolik
- Simbol-simbol digunakan untuk mengkomunikasikan makna susunan
tertentu
Kota Terlarang merupakan salah satu contoh bangunan yang mencerminkan seni bangunan klasik Cina dan arsitektur feodal yang sangat memperhatikan budaya tradisionalnya. Kota Terlarang dibangun pada tahun 1407 oleh Kaisar Dinasti Ming ke III, dan merupakan karya arsitektur yang dilindungi UNESCO.

Monday, May 3, 2010

Lingkungan dan Media Massa, oleh Evi Mariani Sofian, 28/04/2010

Slogan VS Isu Penting
Saat ini sering sekali kita mendengar slogan "Let's Go Green". Sebuah slogan yang telah menjadi buah bibir masyarakat beberapa tahun belakangan ini. Slogan tersebut muncul sejak Conference of Parties 13 United Nations Conference for Climate Change (UNFCCC) pada Desember 2007, ditambah dengan munculnya film Al Gore The Inconvenient Truth, mulai mengulas isu-isu lingkungan seperti pemanasan global dan berbagai dampaknya. Maka dari itu, media massa, dunia iklan dan public relations beramai-ramai merangkul isu lingkungan, isu yang sebelumnya dianggap kurang seksi dibanding politik, HAM dan HIV/AIDS, untuk menjadi isu utama bagi masyarakat.
Dengan munculnya berbagai isu lingkungan tersebut, maka banyak pihak yang merasa peduli terhadap dampak dan mulai mengeluarkan slogan-slogan terkait dengan kepeduliannya terhadap lingkungan, seperti Let’s go green, mari menanam pohon, belanja pakai tas sendiri, produk ini ramah lingkungan, dsb. Hal ini tentunya memiliki arti positif, jika slogan yang disebarkan dapat benar-benar direalisasikan dengan tindakan yang sesuai. Pada kenyataannya, slogan-slogan tersebut hanya digunakan sebatas slogan saja. Tidak banyak orang yang sadar betul akan makna sebenarnya dibalik slogan-slogan itu, yang dilakukan hanyalah ikut menyebarkan slogan tanpa melakukan perubahan mendasar pada lingkungan yang sudah disepakati oleh dunia akan semakin rusak ini.
Isu lingkungan bukan hanya sekedar slogan yang disebarluaskan sehingga menjadi lebih penting daripada isu lingkungan itu sendiri. Isu lungkungan yang menyatakan adanya pemanasan global dan perubahan iklim tidak benar-benar dipahami oleh masyarakat.
Temperatur dunia saat ini memanas setiap tahunnya, menyebabkan perubahan cuaca di beberapa tempat di dunia. Intinya seluruh dunia mengalami perubahan pada pola cuaca dimana musim dan cuaca tak lagi bisa diramalkan dengan pola sebelumnya. Seperti misalnya saja, di Indonesia, para ilmuwan meramalkan beberapa pulau besar akan mengalami cuaca ekstrem, yaitu kemarau yang lebih panjang dari biasanya, dan banjir besar di musim hujan akibat jumlah air yang kurang lebih sama turun di musim hujan yang lebih pendek. Jawa, Sumatra dan Sulawesi akan mengalaminya. Kalimantan disebut-sebut sebagai pulau yang relatif cukup aman. Penyebab dari ini adalah pelepasan CO2 dan emisi lain yang merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari terik sinar matahari. CO2 muncul dari berbagai macam sumber, yang utama adalah dari bahan bakar berbasis fosil, seperti semua turunan minyak bumi dan batu bara. Penjelasan tersebutlah yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin merusak bumi dan lingkungan kita.

Isu lingkungan yang harus disadari ssat ini adalah:
  • Mencari energi yang sungguh-sungguh ramah lingkungan (angin, matahari, geothermal).
  • Menjaga hutan yang masih ada. Tiga negara dengan hutan terbesar: Brazil, Republik Congo dan Indonesia.
  • Mengurangi polusi udara dan air, yang dipercaya bisa melepas emisi seperti CO2 dan metan ke udara.
  • Mengurangi sampah yang juga mengeluarkan emisi.
  • Menghemat air sebab air akan menjadi komoditi yang langka saat cuaca ekstrem menimpa manusia.
  • Menghemat energi untuk mengurangi emisi dari fossil fuel.
  • Mengubah gaya hidup dari yang boros menjadi yang lebih ramah lingkungan. Misalnya mengurangi daging karena peternakan intensif juga mengeluarkan emisi.
Maraknya isu lingkungan yang tersebar dalam masyarakat membuat berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab ingin mengambil keuntungan yang besar. Banyak produk dan perusahaan yang mengklaim bahwa praktiknya ramah lingkungan, hingga mereka menjual lebih mahal dari produk biasa, namun ketika dilakukan penelitian, semua hanyalah bohong belaka. Dengan adanya kasus seperti ini, pihak media massa terutama wartawan, harus bersikap jujur, kritis dan tidak memihak. Wartawan harus benar-benar mencari informasi mengenai isu lingkungan sesuai fakta dan data, untuk kemudian disebarkan pada khalayak karena hal ini menyangkut nasib lingkungan, nasib orang banyak, dan nasib dunia. Pada praktiknya,wartawan haruslah menjadi orang yang paling kritis terhadap situasi yang dimanfaatkan secara negatif oleh banyak orang, dan menjadi pembela kebenaran, barulah PR dan iklan yang mengikutinya di belakang.
Maka, media massa diharapkan tidak hanya menyebarkan slogan-slogan saja, tetapi juga memperhatikan pemahaman atas slogan yang menyangkut isu lingkungan agar terjadi perubahan mendasar dalam setiap individu untuk bertindak dan diharapkan dapat membantu pemulihan kerusakan bumi ini.

Problem Jurnalisme Warga, oleh Agus Sudibyo, Dewan Pers, 07/04/2010

Pengertian Jurnalisme Warga
Jurnalisme warga dapat dikatakan sebagai jurnalisme yang menempatkan warga sebagai subyek, dan dalam hal ini warga dapat secara aktif-partisipatoris terlibat dalam proses pencarian, pengolahan, dan penyajian informasi. Jurnalisme wrga didasari atas adanya kepercayaan bahwa setiap orang dapat menjadi informan sekaligus jurnalis, karena dalam suatu diskusi di ruang public media, warga tidak hanya menonton, tapi mereka dapat berperan aktif menyalurkan apa pendapat mereka. Medium yang digunakan dalam jurnalisme warga adalah media massa elektronik dan online, karena media massa ini mampu memberikan kesemopatan langsung bagi audiensnya untuk dapat berinteraksi secara langsung.

Media memiliki dua fungsi, yaitu sebagai ruang publik dan institusi sosial. Maksud dari media sebagai ruang publik adalah media memiliki peran untuk menyampaikan berita/informasi kepada publik (ruang publik), dan publik dapat menyalurkan opininya melalui media (ruang privat). Jadi, media akan menampilkan berbagai informasi terkini yang dikemas dalam format berita, wawancara, maupun talkshow, yang isinya harus sesuai dengan nilai berita dan kode etik yang berlaku. Dari berita yang ditampilkan, publik akan merespon dengan mengirimkan opini, surat pembaca, tajuk rencana kepada media, yang isinya juga harus sesuai dengan kepantasan ruang publik, proporsional, dan kode etik yang berlaku. Fungsi kedua media sebagai institusi sosial dimaksudkan sebagai sebagai sebuah organisasi yang bersifat sosial dengan membantu memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat. Namun, pada kenyataannya, media telah menjadi indtitusi ekonomi yang bersifat komersil.

Nilai berita itu sendiri meliputi, aktualitas, akurasi, seimbang, relevansi publik, prominensi (ketenaran/kepopuleran), magnitude (kebesaran), proksimitas (kedekatan), kompetensi sumber, dan konflik.

Kode etik jurnalistik secara garis besar berupa, tidak berprasangka; mengandung konfirmasi; tidak sarkastik, sadistis, pornografis; menggunakan bahasa yang benar; berdasarkan fakta.

Problem Jurnalisme Warga
Apakah jurnalisme warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik? Inilah yang menjadi dilema jurnalisme warga dimana terdapat tolak belakang antara kecepatan dengan kelengkapan/kedalaman berita dan informasi, partisipasi publik dengan esensi/kualitas jurnalistik warga itu sendiri, adanya kebingungan antara ruang privat dengan ruang publik dan urusan privat dengan urusan publik, apakah masih ada ruang publik dalam jurnalistik warga yang benar-benar utuh karena sejauh ini kita ketahui bahwa semua hal yang masuk ke media merupakan sesuatu yang berasal dari urusan privat seseorang ataupun sekelompok orang (yang biasanya memiliki kuasa/elit). Maka dari adanya dilema ini, terdapat dua pemikiran yaitu apakah jurnalisme warga merupakan perluasan ukuran dan parameter ruang publik guna memperkuat perwujudan prinsip-prinsip partisipasi publik atau sebagai kolonisasi ruang publik oleh urusan-urusan privat?

Hal tersebut mengakibatkan terjadinya urgensi jurnalisme warga dengan adanya keterbatasan ruang untuk partisipasi politik warga, pemberitaan media yang elitis (tidak menyentuh urusan-urusan masyarakat di akar rumput, dan pemilihan sumber berita pada pemberitaan media yang melulu berorientasi kepada sumber-sumber elit seperti pemerintah, DPR, pakar, intelektual, aktivis.
Media juga memiliki pertanggungjawaban atas hal ini dimana media terlalu autis, asyik dengan dirinya sendiri, media selalu menentukan skala prioritas pemberitaan yang berdasarkan agenda, nilai, orientasi dan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan minat, kepentingan dan kebutuhan pembaca, dan media tidak benar-benar menyadari pelibatan publik dalam penentuan agenda setting media sebagai konsekuensi status ruang publik. Mungkin dalam pemikirannya media memikirkan apa yang dibutuhkan publik saat ini, tapi pada kenyataannya media tidak sepenuhnya tahu apa yang dibutuhkan publik, malah media banyak menayangkan berita dan informasi berdasarkan pemikiran mereka sendiri.

Untuk mengatasi problem ini, apakah yang seharusnya dilakukan? Agus Sudibyo pada akhir perkuliahannya menjelaskan bahwa siapapun pelaku jurnalisme warga harus memahami benar media adalah ruang publik sosial dengan nilai-nilai bakunya (nilai berita dan kode etik jurnalistik); profesi jurnalis bukan profesi sembarangan yang bisa dilakukan secara serampangan; dan berita berbeda dengan informasi satu sisi, gosip, atau syakwasangka. Dengan dimengertinya ketiga poin tersebut, maka diharapkan para pelaku jurnalisme warga dapat melaksanakan kegiatan jurnalistiknya dengan baik dan benar.

Komunikasi Politik dan Pembangunan, oleh Drs.Eko Harry Susanto, 17/03/2010

Menurut Nimmo (1993:8), Komunikasi Politik merupakan komunikasi yang mengacu pada kegiatan politik yang meliputi pembicaraan yang mengandung bobot politik, terlepas hanya sebatas mendiskusikan, tanpa terlibat langsung dalam aktivitas sebuah partai politik maupun kelompok-kelompok politik yang ada dalam masyarakat. Komunikasi Politik merupakan proses komunikasi massa, termasuk komunikasi antar pribadi dan elemen-elemen di dalamnya yang mungkin mempunyai dampak terhadap perilaku politik (Krans dan Davis, 1976:7). Rush dan Althoff (1997:225) menyebutkan komunikasi politik merupakan transmisi informasi yang secara politik dari satu bagian sistem politik kepada sistem politik yang lain dan antara sistem social dan system politik merupakan unsur dinamis dari suatu sistem politik.

Lima Komponen Komunikasi Politik :
•Komunikator Politik, merupakan seseorang yang memiliki kemampuan dalam komunikasi politik
•Pesan Politik
•Media Komunikasi Politik, secara umum alat untuk mengirimkan pesan-pesan politik seperti TV, Radio, Koran, Internet
•Khalayak Komunikasi Politik, khalayak komunikasi politik dapat dibentuk melalui opini publik.
•Dampak Komunikasi dalam Politik, yaitu konsekuensi dari proses sosialisasi politik.


Pembangunan
Pembangunan, meskipun memiliki substansi yang lebih politis, tetapi biasanya tidak bisa dilepaskan dari unsur modernisasi. Rostow (1960:57) menyatakan bahwa, “pembangunan adalah sesuatu yang terus maju, dari suatu tahap yang primitif ke tahap yang lebih maju.”
Perbedaan antara Pembangunan dan Modernisasi yaitu pembangunan sangat melekat pada unsur-unsur komunikasi politik, sedangkan modernisasi tidak melekat/bebas dari unsur-unsur komunikasi politik. Dalam upaya pembaharuan, McQuail (1987:97) prinsipnya menyatakan, media paling baik digunakan secara terencana untuk menimbulkan perubahan dengan menerapkan dalam program pembangunan berskala besar. Samuel P. Huntington (dalam Cyril E. Black, 1976:30) melihat modernisasi merupakan proses bertahap dari tatanan yang primitif dan sederhana menuju tatanan yang maju dan kompleks. Modernisasi juga dapat dikatakan sebagai proses homogenisasi dengan tendensi dan struktur serupa. Homogenisasi merupakan penyeragaman situasi, contohnya : tiap kota ke kota situasi dan apa yang dilihat sama semua, strukturnya serupa.
Modernisasi, bentuk lahirnya sebagai proses eropanisasi dan amerikanisasi atau dalam bentuk yang lebih konkrit adalah kebijaksanaan untuk melakukan industrialisasi dan model politik demokratis negara dunia ketiga sepenuhnya mencontoh pengalaman negara maju tanpa mengindahkan sejarah total masing-masing negara dunia ketiga. Modernisasi merupakan perubahan progresif sekalipun akibat samping maupun korban modernisasi beraneka macam dan kadang-kadang di luar batas kemanusiaan dan moral universal.

Leadership dan Komunikasi, 10/03/2010

Ada 4 inti atau domain kecerdasan emosi dan kompetensi yang terkait.
Kompetensi pribadi, kemampuan ini menyatukan bagaimana kita mengelola diri kita.
Dalam kompetensi pribadi terdapat :
•Kesadaran diri
•Kesadaran diri emosi, membaca emosi sendiri dan mengenali dampaknya.
•Penilaian diri yang akurat, tahu kekuatan dan keterbatasan diri
•Kepercayaan diri, kepekan yang sehat mengenai harga diri dan kemampuan diri.
•Pengelolaan diri
•Kendali diri emosi, mengendalikan emosi dan dorongan yang meledak-ledak.
•Transparansi, menunjukkan kejujuran dan intergritas yang layak umtuk dipercaya. •Kemampuan menyesuaikan diri, kelenturan dalam beradaptasi dengan perubahan situasi.
•Pencapaian, dorongan untuk memperbaiki kinerja untuk memenuhi standar prestasi yang ditentukan oleh diri sendiri.
•Inisiatif, kesiapan untuk bertindak dan menggunakan kesempatan.
•Optimisme, melihat sisi positif dari suatu peristiwa.

Kompetensi sosial, kemampuan ini menentukan bagaimana kita mengelola hubungan.
Dalam kompetensi sosial terdapat:
•Kesadaran sosial
•Empati, merasakan emosi orang lain
•Kesadaran organisasional, membaca apa yang terjadi
•Pelayanan, mengenali dan memahami kebutuhan klien
•Pengelolaan relasi
•Kepemimpinan yang mengispirasi, membimbing dan memotivasi dengan semangat.
•Pengaruh, menguasai berbagai taktik subjek
•Mengembangkan orang lain, menunjang kemampuan orang lain denagn umpan balik dan bimbingan.
•Katalis perubahan, memprakarsai, mengelola, dan memimpin di arah yang baru.
•Pengelolaan konflik, menyelesaikan pertengkaran
•Membangun ikatan, menumbuhkan dan memelihara jaringan relasi.
•Kerja kelompok dan kolaborasi, kerjasama dan pembangunan kelompok.

Gaya kepemimpinan
•Visioner:
•Bagaimana gaya ini membangun resonansi (mengerakkan orang ke arah impian bersama.
•Dampak terhadap iklim emosi paling positif
•Kapan penggunaan yang tepat : ketika perubahan membutuhkan visi baru
•Pembimbing:
•Bagaimana gaya ini membangun resonansi (menhubungkan apa yang diinginkan seseorang dengan sasaran organisasi.
•Dampak terhadap iklim emosi sangat positif
•Kapan penggunaan yang tepat, ketika membantu karyawan memperbaiki kinerja dengan membangun kemampuan jangka panjang.

7 penyakit yang mengaitkan antara kelainan jiwa dan jenius :
•Disleksia, gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan mengenali dan memahami bahasa tertulis ketika membaca, menulis, dan mengeja. Tokohnya : Einstein, T.A Edison, etc.
•Bipolar, perubahan suasana hati antara euphoria (senang yang berlebihan) dan depresi. Gejala psikotiknya seperti delusi dan halusinasi.
•Schizofrenia, gangguan kejiwaan yang parah seperti delusi dan halusinasi
•Obsesif Compulsif Disorder (OCD), kondisi kejiwaan yang ditandai dengan tekanan untuk berpikir dan berperilaku terus-menerus seperti obsesi untuk mencuci tangan.
•Autistic Savant, orang yang menderita kelainan ini, memiliki kemampuan luar biasa.
•Terminal Illness, dapat memicu respon emosional
•Epilepsi (ayan), tokoh: Julius Ceasar, Alexander Agung, etc.